Sabtu, 18 Juni 2022

Mengejar Piala Keridaan dari Tuhan

Menapaki lika-liku jalan kehidupan, berbutar, naik-turun, beristiqomah menuju ridho-Nya Menjalankan berat perintah-Nya, dan menjauhi segala ringan larangan-Nya Cobalah brusaha berperang amar makruf nahi mungkar Mengejar piala-piala keridaan dari Tuhan, bukan bersembunyi dari hati yang besar --- Biarlah debu-debu dosa berterbangan hilang bersama hujan Dan biarlah hujan mengeringkan bumi dari sisa-sisa kejahatan Biarlah pepohonan iman yang hijau tumbuh subur Berbunga, berbuah memberi manfaat pada masyarakat Negeri yang makmur --- Kemaksiatan merajalela, pergaulan bebas sudah biasa Orang tua tidak tahu atau tidak menahu, hingga sampai terenggut buah gadisnya Mereka makan dan minum dari sumber, air yang dilarang Mendarah daging dalam tubuhnya, bersenggama dan menghentikan detak jantung --- Sentuhlah hatinya agar mereka meninggalkan kejahatan Sentuhlah tubuhnya agar mereka melakukan kebajikan Ulurkanlah tanganmu untuk membantunya dari jurang kehancuran Do'akan mereka yang dzalim, pada diri sendiri, pada keluarga, agama, negara, agar mereka dicintai oleh Tuhan Sby, 16 Juni 2022 M. Abd. Rahim, S.Pd.I, M.Pd (GPAI SMK PGRI 1 SURABAYA) Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mengejar Piala Keridaan dari Tuhan", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/mabdrahim/62aa8f4efdcdb4241d61de92/mengejar-piala-keridaan-dari-tuhan Kreator: M Abd Rahim Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Mengucap Mantra di Bulan Purnama

Melewati masa tak terasa sudah menua Kulit mengerut dan beberapa anggota tubuh yang lain tak sempurna Pohon yang ditanam, kini sudah berbuah dan dinikmati anak cucu "Cu.., lihatlah bulan di atas sana masih malu-malu" --- "Ya Nek, aku suka melihat awan yang di sana masih menggulung-gulung," Katanya Lihatlah di kutub timur itu, ada bintang fajar yang bersinar bangga Dan lihatlah sebelah sana, di kutub barat bulan purnama bercahaya "Nenek lupa seharusnya saat bulan di atas, kita membaca mantra." Katanya --- "Iya Nenek sudah tua, tapi masih kelihatan muda," kata cucu Masih bisa menemaniku bermain, ngajarin aku membaca kitab suci Walau sudah tua mata masih terang untuk membaca sang wahyu Kaki masih kuat untuk beribadah dan menuju ke tempat-tempat suci --- "Apa rahasianya Nek?," katanya "Bulan purnama masih bercahaya purnama, cobalah baca biar awet muda Sak nom-nome bulan, isih nom umurku Sak ayu-ayune bulan masih ayu wajahku" --- "Sak nom-nome bulan, isih nom umurku Sak ayu-ayune bulan masih ayu wajahku Gusti Allah kang Maha Agung, sing gawe alam semesta Lantaran bulan purnama mugi saget digdaya" Sby, 15 Juni 2022 - 15 Dzulqo'dah 1443 H M. Abd. Rahim, S.Pd.I, M.Pd. (GPAI SMK PGRI 1 Surabaya) Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mengucap Mantra di Bulan Purnama", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/mabdrahim/62a911dfbb448653432d0622/mengucap-mantra-di-bulan-purnama Kreator: M Abd Rahim Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Takdir Kuasa yang Bisa Diubah Tangan Manusia

Takdir muallak adalah takdir yang bisa dirubah oleh tangan manusia Diantaranya sakit menjadi sembuh, bodoh menjadi pandai dan miskin menjadi kaya Manusia diberi cobaan sakit oleh Tuhan bukan serta merta menerima sepenuhnya Tapi harus ada usaha-usaha tertentu seperti berobat ke dokter untuk sembuh dari sakitnya Begitu juga saat dia menuju kepandaian yang cemerlang ia bagaikan elang Terbang imajinasi dan kreativitas perlu bimbingan dan arahan Untuk menjadi anak yang sukses di masa depan Allah berfirman: Innallaha la yoghoyyiruma biqoumin Hatta yoghoyyiruma bianfusihim "Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu qoum sebelum qoum tersebut merubahnya sendiri"

Bayangan Kematian